Rabu, 28 Mei 2014

Peluang Penanggulangan Kemiskinan melalui Reforma Agraria di Kab. Sukabumi

Oleh: Ajat Zatnika


Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan.


Kemiskinan di Kabupaten Sukabumi walaupun secara agregat berkurang dari tahun ke tahun, namun kemiskinan masih menjadi masalah prioritas sekaligus tantangan yang harus diselesaikan ke depan. Berdasarkan  data  dari  BPS,  secara  persentase  terjadi  penurunan jumlah  Penduduk  miskin  dari  tahun  ke  tahun.  Tercatat  dari  tahun  2010 jumlah  penduduk  miskin  mencapai  10,65  %,  menurun  menjadi  10,33  % pada tahun 2011 dan pada tahun 2012 sebesar 9,72 %. 

Kemiskinan di Kabupaten Sukabumi diduga sebagai akibat dari kepemilikan sumberdaya yang tidak merata, pendapatan dan pengeluaran yang tidak seimbang serta ketidaksamaan kesempatan berusaha.  Hal ini salah satunya berkaitan dengan pertambahan jumlah pengangguran dan angkatan kerja tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai. Penanganan masalah ketenagakerjaan masih merupakan agenda yang perlu mendapat perhatian serius, karena masalah tersebut memiliki kepekaan terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat maupun terhadap keamanan dan stabilitas daerah/ regional. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2011 mencapai 62,05%, pada tahun 2012 angka TPAK mencapai 63,11%. Pada tahun 2011 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 9,47% dan pada 2012 mencapai 9,74% lebih rendah dari target yang ditetapkan sebesar 10%. Meskipun pertumbuhan jumlah angkatan kerja meningkat namun disisi jumlah pengangguran pun terus mengalami kenaikan. Melihat kondisi tersebut perlu ada terobosan-terobosan yang inovatif untuk mengatasi permasalahan tingginya angka pengangguran di Kabupaten Sukabumi, misalnya dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada. Kabupaten Sukabumi merupakan daerah yang kaya akan Sumber Daya Alam, akan tetapi tidak bisa dimanfaatkan dan dikelola langsung oleh Daerah.


Beberapa  potensi  dan  sumber  daya  daerah  yang  masih  dapat dioptimalkan  untuk  meningkatkan  kualitas  pembangunan  dan penyelenggaraan pemerintahan daerah, meliputi :
1.     Potensi  kepatuhan  para  pihak  (institusi  pemerintah,  swasta,  dan masyarakat)  yang  belum  optimal  dan  konsisten  dalam  melaksanakan peraturan  perundangan  atau  hasil  kesepakatan  yang  telah  ditetapkan bersama,  terutama  komitmen  terhadap  hasil  dokumen  perencanaan daerah.
2.    Potensi  penataan  organisasi  perangkat  daerah  akan  lebih  optimal apabila  diikuti  dengan  penataan  aparatur  secara  proporsional  dan berbasis kompetensi, baik di tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa/ Kelurahan.
3.       Potensi  peran  serta  masyarakat  dan  dunia  usaha  serta  pembagian peran  kelembagaan  masyarakat  terutama  di  tingkat  Desa  dan Kecamatan yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk menunjang efektivitas  manajemen  pembangunan  dan  penyelenggaraan pemerintahan daerah.
4.    Potensi  pengelolaan  sumber  daya  alam  dan  lingkungan  yang  belum sepenuhnya  mengacu  pada  rencana  tata  ruang  dan  rencana pembangunan daerah, baik jangka panjang, jangka menengah maupun tahunan. Termasuk potensi pemanfaatan lahan ex-erfpacht/HGU di Kabupaten Sukabumi yang telah di redistribusikan kepada warga/dilegalisasi oleh Pemerintah melalui BPN pada program Reforma Agraria berupa aset dan akses reform.
5.     Potensi anggaran daerah, yang PAD nya terus mengalami peningkatan pada tahun 2014 mencapai 16% dari total Pendapatan Daerah. Bahwa kebijakan daerah tanpa ditunjang dengan PAD yang baik, maka proses pembangunan tidak akan berjalan dengan baik. Dalam hal pengelolaan PAD ini, perlu dilakukan secara terbuka, transparan dan akuntabel. Sehingga program dan kebijakan daerah bisa dipastikan dapat teratasi dengan pemanfaatan PAD secara efektif dan tepat sasaran berdasarkan target capaian pembangunan daerah.
Jumlah  penduduk  Kabupaten  Sukabumi  dari  tahun  ke  tahun mengalami  peningkatan.  Berdasarkan  data  BPS  Tahun 2012  (survei  sosial  ekonomi  nasional),  penduduk  Kabupaten  Sukabumi tercatat  sebanyak  2.408.338  jiwa,  dengan  komposisi  penduduk  laki-laki sebanyak  1.227.409  jiwa dan penduduk perempuan sebanyak  1.180.929 jiwa.  Data  proyeksi  sementara  dari  BPS,  jumlah  penduduk  Kabupaten Sukabumi  pada  tahun  2013  adalah  2.441.813  orang  atau  diproyeksikan ada kenaikan sebesar 1,39% dari tahun 2012.
Di sisi lain, di Kabupaten Sukabumi dari ke-9 sektor/lapangan usaha, yang  berkontribusi  terbesar terhadap PDRB Kabupaten Sukabumi adalah sektor pertanian rata-rata sebesar 5,79 Trilyun rupiah pertahun, pada tahun 2012 sektor pertanian berkontribusi sebesar 6,02 Triliyun rupiah dengan tanaman bahan makanan salah satu faktor pendukung tingginya PDRB dari sektor pertanian (3,20 Trilyun rupiah),  disusul  kemudian  oleh  sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 5,63 Trilyun rupiah dengan faktor pendukung terbesar dari perdagangan besar dan eceran sebesar 4,73 Trilyun rupiah.
Sektor pertanian dengan jumlah kontribusi terbesar, namun sayangnya berdasarkan angka hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2013, jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Sukabumi mengalami penurunan sebanyak 63.046 rumah tangga dari 354.800 rumah tangga pada tahun 2003 menjadi 291.754 rumah tangga pada tahun 2013, yang berarti menurun sebesar 1,77 persen per tahun.

Hal terbukti bahwa semakin berkurangnya tenaga kerja di sektor pertanian maka semakin berkurangnya lahan sawah dan  tambak. Bahkan jumlah rumah tangga usaha pertanian gurem di Kabupaten Sukabumi mengalami penurunan dari tahun 2003 sebanyak 282.047 menjadi 228.343 pada tahun 2013.
Berdasarkan rancangan RKPD Kabupaten Sukabumi Tahun 2015 bahwa perekonomian Kabupaten Sukabumi tahun 2015 dan tahun 2016 masih bertumpu pada basis produksi pertanian, kontribusinya diproyeksikan sebesar 25-30%. Namun demikian laju pertumbuhannya relatif rendah pada kisaran 2-3%, ini dikarenakan sektor pertanian merupakan sektor usaha yang memiliki nilai tambah (value added) yang kecil dibandingkan sektor usaha lainnya.  Pada masa yang akan datang diharapkan terjadi pergeseran kontribusi perekonomian Kabupaten Sukabumi dari sektor usaha pertanian kepada sektor usaha industri dan jasa dengan tetap mempertahankan produksi pertanian dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kemiskinan struktural atau proses pemiskinan di negeri ini, khususnya di Kabupaten Sukabumi terjadi karena hilangnya aset dan akses produksi masyarakat miskin, khususnya di perdesaan. Oleh karenanya, upaya penanggulangan kemiskinan di Jawa Barat selayaknya diarahkan pada upaya-upaya sistematis untuk mengembalikan penguasaan aset dan akses produksi kepada masyarakat, khususnya masyarakat miskin di perdesaan.

Senin, 30 September 2013

Raup untung di tengah dahaga - AMDK Kabupaten Sukabumi

Reporter : Arbi Sumandoyo (merdeka.com)

Waktu baru saja menunjukkan pukul empat sore. Namun cahaya langit di Kampung Kuta, Desa Babakan Pari, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sudah mulai gelap. Wawan perlahan menuruni puluhan anak tangga melingkar menuju bekas mata air dulu kerap digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

Bekas mata air itu kini ditumbuhi ilalang dan ditanami pohon pisang. Air dari dinding tebing itu sekarang sudah tidak pernah mengalir dan tertutup oleh rumput liar. "Di situ dulu ada empat mata air, tapi kini sudah tidak ada lagi karena kering," kata Wawan, warga Kampung Kuta, kepada merdeka.com Selasa pekan lalu.

Dia mengatakan keringnya mata air itu berlangsung setelah perusahaan air minum kemasan bermerek Aqua mengambil mata air Cikubang. Sejak 1995 penduduk Desa Babakan Pari mulai kelimpungan dengan keringnya air di sumur milik mereka jika tidak turun hujan.

"Kalau nggak turun hujan sepuluh hari aja sudah kering. Beda dengan dulu keringnya pas musim kemarau, tapi warga bisa manfaatkan mata air," ujar wawan mengenang.

Dia lantas menunjukkan sumber mata air lain juga telah ditumbuhi rumput liar bercampur pohon bambu. Hanya ada kubangan air bekas mata air sering digunakan warga. Mata air sudah tidak berproduksi lagi.

Berdasarkan data Dinas Pertambangan dan Energi kini berubah nama menjadi Dinas Pengelolaan Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Sukabumi, tiga tahun lalu Kecamatan Cidahu memiliki enam mata air.

Enam mata air itu adalah mata air Cikubang di Kampung Cikubang Jaya, mata air Ciburial (Desa Babakan Pari), mata air Cibuntu (Kampung Kerenceng), mata air Cigombong (Desa Pasir Doton), mata air Desa Jaya Bakti, dan mata air di Desa Pondok Kaso.

"Semuanya sudah dibeli perusahaan," kata Wawan sambil menunjukkan mata air sedalam 2,5 meter dengan luas sekitar 4x7 meter telah dibeli oleh PT Alam Raya. Namun sampai sekarang mata air ini belum digunakan.

Dalam data Dinas Pertambangan, Aqua lewat bendera PT Aqua Golden Mississippi beralamat di Jalan Pulo Lembut nomor 3 Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur, menguasai empat sumber air dari mata air Cikubang di Kampung Kubang Jaya, Babakan Pari, Kabupaten Sukabumi.

Mata air pertama menghasilkan 500 liter air per detik, Yang kedua dan ketiga sama-sama memproduksi 864 meter kubik air tiap hari. Dari mata air keempat diperoleh 70 liter air saban detik.

Wawan menyebut ekploitasi mata air oleh Aqua sebagai penyebab kekeringan di kampungnya. Dia mengatakan untuk memperoleh air bersih dulu cukup menggali sumur tujuh meter. "Sekarang harus 17 meter, itu pun masih kekeringan," ujarnya.

Dia menunjuk ke arah sebuah penampungan air dibangun oleh Aqua untuk warga sedalam 23 meter juga tidak menghasilkan air setetes pun. Penampungan di Kampung Kuta itu tidak b ermanfaat lagi. "Itu menggunakan bor membangunnya, tapi airnya enggak keluar," tuturnya.

Ironis memang. Aqua kebanjiran fulus, sedangkan warga Cidahu kekeringan. Menurut simulasi dilakukan Amrta Institute pada 2009, Aqua menggunakan air tanah 221.143 meter kubik per bulan dan meraup pendapatan sekitar 2,8 triliun setahun. Tapi perolehan Pemerintah Kabupaten Sukabumi dari sektor air cuma Rp 23,5 miliar.

Amrta mensinyalir tidak maksimalnya pendapatan pemerintah kabupaten itu lantaran sejumlah faktor, di antaranya kesalahan penghitungan di lapangan, keterbatasan sumur pantau, praktek manipulasi air, dan minimnya sumber daya manusia dari pemerinyah buat mengawasi penggunaan air oleh perusahaan.

"Pemasukan dari air optimal bisa dimanfaatkan untuk konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata peneliti dari Amrta Institute, Irfan Zamzami, kepada merdeka.com melalui surat elektronik. Irfan melakukan riset di Kabupaten Sukabumi tahun lalu berjudul "Studi Kasus Pemantauan Pendapatan dari Eksplotasi Air di Kabupaten Sukabumi: Keterbatasan Masyarakat terhadap Air, Keterbatasan Penerimaan Pemerintah dari Sumber Daya Air".

Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Sukabumi menemukan pendapatan asli daerah Kabupaten Sukabumi terbesar didapat dari pajak air tanah. Jumlahnya Rp 17,5 miliar tiap tahun. Sedangkan perolehan dari Pajak Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Rp 10 miliar dan pajak penerangan jalan (PPJ) Rp 14,5 miliar.

"Porsinya 70 persen dari pajak dibayarkan AMDK," kata Ajat Zatnika dari Fitra Sukabumi saat ditemui di kantornya, Kampung Cibatu, Desa Nagrak, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Rabu pekan kemarin.

Sumber diperoleh dari : http://m.merdeka.com/khas/raup-untung-di-tengah-dahaga-eksploitasi-air-aqua-3.html